Showing posts with label Destinations. Show all posts
Showing posts with label Destinations. Show all posts

Friday, 9 September 2011

Tempat wisata Kediri Tulungagung Blitar

Tempat wisata Kediri Tulungagung Blitar

a. Air Terjun Cuban Rondo
Di air terjun ini setiap
kemarau dilaksanakan
upacara adat Temanten
Kucing, dipercaya dapat
mendatangkan hujan

b. Candi Sanggrahan
( Cungkup)
Salah satu bukti kebesaran
Wajak di masa lalu yaitu
sebagai candi pemujaan.

c. Candi Dadi
Berada dipuncak bukit
sehingga dari sana kita dapat
memendang kawasan
Tulungagung dengan jelas dari
desa sampai kota.

d. Candi Gayatri
Merupakan malam seorang
putri dan istri raja besar Jawa
yaitu Raden Wijaya.

e. Goa Pasir
Berada dilereng bukit Jok
Budeg diperkirakan sebagai
tempat pada jamannya, sebab
dari goa ini kita dapat
mengamati lingkungan Wajak
dengan jelas.

f. Goa Selomangleng
Dinding goa berukir cerita
Mahabharata yaitu
Arjunawiwaha.

g. Sumber Urip
Merupakan sumber air yang
sangat diperlukan penduduk
setempat.

h. Umpak dan Wantilan
Dilihat dari jarak umpak
kurang lebih 20 M dapat
dibayangkan besarnya
bangunan pendopo agung
pusat pemerintahan jaman itu,
dari Wantilan, sang penguasa
mempunyai kendaraan
kebesaran yaitu Gajah
Semua itu saksi bisu eksisten
Wajak dimasa lalu

Mitos candi mirigambar tulungagung

Mitos candi mirigambar tulungagung

Candi yang dibuat pada masa
pemerintahan Sri
Wikrawardhana dari
Majapahit dengan bahan baku
batu bata merah. Candi
Mirigambar satu-satunya candi
yang berelief cerita Angling
Dharma.Candi Angling
Dharma berada di desa
Mirigambar sebelah tenggara
kurang lebih 7 KM dari kota
Tulungagung.

BATU PUALAM

Batu pualam merupakan
kekayaan alam Kabupaten
Tulungagung yang berupa
gungung batu berada di desa
Besole Kecamatan
Campurdarat, kurang lebih 18
Km arah selatan kota
Tulungagung sebagai
penghasil marmer. Didaerah
ini banyak pangrajin batu onix.

Ikan Bakar Di wisata prigi pasir putih trenggalek

Ikan Bakar Di wisata prigi pasir putih trenggalek


Tour ke Trenggalek
dengan tujuan Pantai pasir
putih dan pantai Prigi
Trenggalek.

Rombongan kami 2 bus,
dengan kira-kira jumlah
rombongan 80an orang karena
seorang pegawai beserta
keluarga, ada yang bwa
anaknya komplit dan juga ada
yang membujang (sendirian
waktu tour kemarin).

Kami berangkat dari depan
kantor (IRD) pukul 5 pagi
setelah menunaikan sholat
subuh, sebelum berangkat
berdoa dipimpin oleh bapak H.
Bambang Suwignyo, dan kebetulan
acara ini diadakan untuk
kenang-kenangan perpisahan
dengan beliau, karena bualan
depan beliau sudah purna
tugas, “Selamat Bapak H.
Bambang Suwignyo, pengabdian
bapak hanya Alloh yang bisa
balas ”



Sesampai di Trenggalek sudah
hampir jam 8 pagi, saya turun
sebentar di Bendo, pesan
makanan untuk makan sore,
untuk makanan ini nanti kami
bahas dengan judul tersendiri,
Nasi Lodho pak Yusuf
Trenggalek.
jam 10an kami sampai di
pantai Pasir putih, hijaunya
perbukitan dan deru debur
ombak seakan sudah
menunggu kedatangan kami,
indah sekali jalanyang
berkelok yang kami lewati.

Dua rombongan kami harus
membayar Rp.200.000,- sudah
termasuk tiket masuk dan
parkir bus, petugas dengan
ramah melayani kami.
dan inilah foto-foto tour
kemarin
ini selintas pantai yang
terhalangi pulai karang yang
nan indah, yang menghalangi
ombak besar lansung menuju
pantai
dengan uang Rp.5000,- kita
bisa berperahu keliling pantai
mengitari pulau, seakan di
danau atau telaga, tanpa
gelombang yang besar
jasa persewaan ban untuk
pelampun, Rp 3000-5000,-
kita bisa berenang mengikut
ombak yang ketengah dan
kepinggir seaka-akan sebagai
dayung, tanpa ketahutan
karena begitu landainya, dan
begitu lembutnya ombak
pantai pasir putih
pantai yang teduh oleh
pepohonan yang rindang
menambah sejuknya suasana,
walau matahari diatas kepala
namun enggan untuk
beranjak, dan lahan parkir
yang luas menambah nyaman
tempat ini, cuma toilet dan
mushola yang belum tersedia,
meski ada milik perseorangan

Berkunjung Ke wisata pantai popoh tulungagung

Berkunjung Ke wisata pantai popoh tulungagung


Kekhasan pesona
PIP antara lain :
Udara / angin yang khas
PIP berada di antara
perbukitan pantai teluk
(menjorok masuk ke daratan)
sehingga angin laut yang
datang tidak secara langsung
masuk tetapi diterima
perbukitan yang mengirimkan
angin gunung.
Gelombang laut pantai tenang
Karena geografis posisi pantai
masuk ke dalam, maka
pengaruh gelombang Laut
Selatan yang terkenal ganas
menjadi lembut dan tenang.

Kondisi ini memungkinkan
bagi para wisatawan untuk
bercengkerama dan berwisata
sepanjang Pantai Indah Popoh
dengan aman tanpa terusik
ganas dan bahayanya ombak
laut selatan.
Gardu pandang
Agar para wisatawan dapat
menikmati ganas, dan
indahnya ombak Laut Selatan,
disediakan tempat
peristirahatan untuk
menyaksikan dan menikmati
ombak tersebut dengan aman
dan nyaman serta bersih.

Saat berlabuh senja hari
Khasiat air laut
Bagi kebanyakan orang
percaya bahwa air laut cukup
berkhasiat. Khususnya air laut
yang diyakini dari Laut Selatan
tempat peristirahatan Nyi
Roro Kidul. Hal ini dengan
dibangunnya Palereman Nyai
Roro Kidul diarea Padhepokan
Retjo Sewu. Legenda dan
spiritual yang demikian,
banyak para wisatawan yang
datang untuk segera berbasuh
muka dengan air laut.

Khasiatnya antara lain :
panjang umur, awet muda,
mudah mendapatkan
keuntungan, sehat, rukun
dalam keluarga.


Goa alam

Tidak semua pantai Laut
Selatan mempunyai goa alam,
Goa Alam yang memberi
kepuasan bagi para wisatawan
dapat langsung menyentuh
dan menikmati ganas dan
indahnya Samudra Indonesia
secara bebas sekaligus dapat
menikmati secara dekat
atraksi-atraksi ikan paus
bercengkerama di tengah laut
Selatan.

Di Pantai Indah Popoh
dilengkapi dengan sarana
penginapan, pasar ikan,
wisata bahari dan beberapa
tempat yang asyik untuk
memancing. Setiap bulan Suro
(Muharam) diselenggarakan
Upacara "Labuh Semboyo".
Masih dikawasan Pantai Popoh
dapat menikmati obyek wisata
" Reco sewu" dan laut bebas.

Di sepanjang perjalanan
menuju Popoh (Boyolangu,
Campurdarat, Besuki)
terdapat kerajinan batu onix
sebagai souvenir khas
Tulungagung. Kita dapat
menggunakan motor boat
untuk menelusuri pantai
sidem, Klatak, Gemah dan
Bayeman.


Setiap Hari Minggu, dengan
acara : Pentas Musik dan Joget
Dangdut dan Artis-artis Safari
Jawa timur maupun Nasional.
Bekerjasama dengan Dewan
Kesenian Kab. Tulungagung.

1 Januari : Tahun Baru Masehi
Dengan acara : Pagelaran
Musik dan Lawak Akbar

1 Muharam : Tahun Baru
Hijriyah
Dengan acara : Labuh sesaji,
Tiban Api, dll
Maulud Nabi Muhammad SAW

Dengan acara : Bucengan
(BUceng Lanang, Buceng
Wadon, Hadrah)
: Pagelaran MUsik dan Joget
Dangdut, dll

25 Desember : Natal
Dengan acaara : Pagelaran
Kentrung Modern

FASILITAS :

Areal Parkir
Dengan luas ± 3.78 m² , areal
parkir sangat memungkinkan
menampung kendaraan /
mobil cukup banyak, memberi
kemudahan, kenyamanan, dan
keamanan serta kelancaran
saat masuk dan keluar dari
Taman Wisata Pantai Indah
Popoh.

Pendopo Agung
Dengan luas ± 49 m², Pendopo
Agung sangat tepat sebagai
sarana tempat
penyelenggaraan acara
Resepsi, Seminar / Rapat
didukung dengan perangkat
sound system yang lengkap.
Dengan bentuk joglo terbuka,
para peserta seminar / para
penggunaan Pendopo Agung
dapat menyelenggarakan
acara sambil menikmati
suasana Pantai Indah Popoh
secara langsung dan bebas
serta nyaman.

Panggung Kesenian Terbuka
Dengan luas ± 140 m²,
panggung kesenian sangat
tepat sebagai sarana tempat
penyelenggaraan acara-acara
baik tradisionil dan modern
secara optimal.

Arena / Taman Bermain Anak-
anak
Dengan fasilitas yang cukup
representatif, akrab dengan
dunia anak-anak dalam areal
yang cukup luas, memberikan
kebebasan, kenyamanan,
kebahagiaan yang tepat bagi
anak-anak dan keluarga.
Villa
Dengan jumlah ± 11 buah
villa, 37 buah kamar yang
luas, dilengkapi kamar mandi
air tawar diambil dari sumber
air
alam yang segar, bersih, dan
asri serta menghadap
langsung ke laut, sangat tepat
sebagai tempat peristirahatan
bagi keluarga.

Rumah Makan
3 buah rumah makan /
restaurant besar yang sehat
dan bersih, menyajikan aneka
menu khas Pantai Indah Popoh
dan masakan Indonesia sangat
sesuai dengan selera para
wisatawan
Kios Souvenir dan Asesoris
Deretan kios souveir yang
lengkap, tampak bersih dan
indah, menyediakan aneka
souvenir khas Pantai Indah
Popoh dan Tulungagung yang
unik dan menarik, sangat
tepat sebagai buah tangan
dan kenang-kenangan bagi
para wisatawan.

Warung Telekomunikasi

Seiring dengan kebutuhan
untuk lebih memperlancar
dan mempercepat komunikasi,
disediakan sarana dan
prasarana fasilitas komunikasi
yang representatif, lengkap
dan nyaman. Karena diwilayah Pantai Indah Popoh Memang Belum Ada BTS operator seluler yang memungkinkan sinyal hanphone sampai kesini.

Adakah pesugihan roro kembang sore tulungagung?

Adakah pesugihan roro kembang sore tulungagung?
Pesugihan Kembang
Sore
Di tengah kehidupan modern
seperti sekarang ini, budaya
matrialistik memang telah
memperbudak sebagian besar
manusia dalam mancapai
tujuan hidupnya. Mereka
berlomba-lomba memburu
kekayaan, saling
membagakan harta, dan pada
gilirannya manusia lupa pada
kodratnya. Demi
mendapatkan kekayaan
dengan jalan pintas, banyak
orang yang akhirnya
menempuh jalan pintas.


Mereka mendambakan bisa
hidup senang, bergelimang
harta, tanpa perlu usaha yang
sebagaimana semestinya
untuk mendapatkan semua
itu.
Di antar jalan pintas yang
dipilih adalah dengan mencari
pesugihan. Fenomena mistis
yang ini memang sudah jamak
di kalangan masyarakat
umum, khususnya berdedar di
kalangan masyarakat
pinggiran. Namun seiring
dengan waktu, fenomena
pesugihan juga telah
merambah ke kalangan
menangan atas.

Pertanyaannya, benarkah
pesugihan ini bisa ditempuh
dengan cara mudah? Dan,
benarkah pula pesugihan ada
dalam kenyataan yang
sesungguhnya?
Untuk menjawab kedua
pertanyaan tersebut, kali ini
Misteri sengaja melakukan
investigasi ke Makam Roro
Kembangsore. Menurut cerita
yang sudah sangat lama
berkembang, maka kuno yang
terletak di Bukit Bolo, Desa
Bolorejo, Kecamatan Kauman,
Kabupaten Tulungagung, Jawa
Timur ini memiliki tuah gaib
yang bisa membantu para
pemujanya untuk memperoleh
kekayaan dengan cara
irasional.

Lantas, siapakah Roro
Kembangsore itu sebenarnya?
Mengapa pula makamnya
dihubung-hubungan dengan
urusan pesugihan?
Menurut informasi yang
dikumpulkan Misteri, Roro
Kembangsore adalah puteri
Adipati Bedalem dari
Kadipaten Bonorowo. Selain
cantik, dia juga dikenal amat
ramah terhadap siapa saja.
Para kawula alit di Bonorowo
menyebut Roro Kembangsore
sebagai puteri berbudi luhur.
Dikisahkan, karena kecantikan
dan keluhuran budinya,
banyak orang yang menyukai
Roro Kembangsore. Tak jelas
kapan dan dengan cara apa
sang putri meninggal dunia.

Yang pasti, hingga akhir
hayatnya dia tetap dipuja,
terutama oleh kaum hawa.
Memang, sampai sekarang
masih banyak orang yang
ngalab berkah di makamnya.
Yang unik, entah siapa yang
memulai, pemujaan terhadap
Roro Kembangsore itu
kemudian tidak hanya
dimanipulasi oleh kaum Hawa.
Kaum Adam pun tak
ketinggalan memujanya. Lebih
ekstrim lagi, pengkultusan
tersebut kemudian dihubung-
hubungkan dengan masalah
pesugihan. Menurut pantauan
Misteri, tidak hanya pedagang
tempe yang datang ke
makamnya dan menggelar
ritual khusus supaya
tempenya laris, tapi banyak
juga artis lokal yang
melakukan ritual di tempat ini
dengan maksud supaya lekas
menjadi artis Ibukota. Bahkan,
banyak juga bisnismen kelas
menangah yang juga
melakukan ritual di sini.


Dikisahkan pula, semasa
pemerintahan Adipati
Bedalem, muncul kelompok
sayap kiri dan sayap kanan
dalam pemerintahannya.
Pendukung sayap kiri terdiri
dari para berandal yang
menginginkan terjadinya
kekacauan selam
pemerintahan Adipati
Bedalem. Motifnya jelas, yakni
ingin menguasai seluruh
wilayah Kadipaten Bonorowo.
Sementara terjadi kemelut
politik, Roro Kembangsore
selalu berbakti kepada
ayahandanya tercinta. Dia
sering memberikan saran dan
masukan berbobot kepada
ayahandanya, dengan maksud,
jangan sampai memperhatikan
usulan kelompok sayap kiri.
Agaknya, dia tahu benar bila
usulan tersebut ditanggapi,
akan mengacaukan jalannya
roda pemerintahan.

Karena tekanan yang
sedemikian kuat dari
kelompok sayap kiri, saran
dan usulan sang puteri tak
mendapat tanggapan sang
ayah, sebab Adipati Badelam
memang telah ada di bawah
pengaruh golongan sayap kiri.
Suatu ketika, Roro
Kembangsore bertemu
dengan seorang putera
penguasa Majapahit bernama
Pangeran Lembupeteng yang
tengah mengembara sambil
melihat situasi wilayah
Kadipaten Bonorowo.

Pertemuan dua insan ini
membuahkan tali
persahabatan begitu erat.
Bahkan setelah sekian lama
saling bertemu, akhirnya
terjalinlah tali persaudaraan
di antara keduanya.
Sayangnya, hal ini ternyata
menimbulkan rasa cemburu
seorang tokoh sayap kiri
bernama Kalang. Padahal,
menurut silsilah keluarga,
Kalang sesungguhnya masih
berstatus paman Roro
Kembagsore.

Dalam suatu kesempatan yang
baik, di depan Adipati
Bedalem, Kalang menebarkan
fitnah dengan mengatakan
bahwa puteri Roro
Kembangsore telah memadu
kasih dengan Pangeran
Lembupeteng. Atas laporan
palsu ini, Adipati Bedalem
berang. Dia lantas memangil
Pangeran Lembupeteng. Di
situlah Adipati melampiaskan
amarahnya dan mengusir
Lembupeteng dari wilayah
Kadipaten Bonorowo.

Selain diusir, Pangeran
Lembupeteng juga dikucilkan
oleh kelompok sayap kiri. Itu
sebabnya dia segera
meninggalkan lingkungan
Kadipaten untuk melanjutkan
pengembaraannya.
Tak dinyana, kepergian
Pangeran Lembupeteng
ternyata diikuti oleh Roro
Kembangsore. Hal ini tentu
menimbulkan kegaduhan.
Raibnya Roro Kembangsore
dari lingkungan kadipaten,
membuat Kalang tambah
penasaran. Memang sejak
lama Kalang memendam
asmara yang mendalam
terhadap puteri berparas ayu
dan berbudi luhur ini. Hanya
karena rasa sungkannnya,
Kalang memendam hasrat ini.

Namun, dia tak rela jika Roro
Kembangsore jatuh ke dalam
pelukan Lembupeteng.
Keinginan untuk memperisteri
Roro Kembagsore tak
terbendung. Setelah
melakukan pencarian cukup
lama, Kalang berhasil
menemukan jejak Pangeran
Lembupeteng yang selama ini
dianggap sebagai penghalang
utama dalam penggapai
cintanya pada si cantik Roro
Kembagsore.

Pertengkaran antara Kalang
dengan Pangeran
Lembupeteng tak terelakan.
Mereka pun terlibat duel yang
sangat sengit. Sayangnya,
Lembupeteng bukanlah lawan
yang sebanding dengan
Kalang. Pria yang lagi
kasmaran itu akhirnya kalah
dalam pertarungan ini.
Namun, bukan Kalang
namanya bila tidak dapat
melampiaskan dendamnya
pada Lembu Peteng. Dia
meminta bantuan Kasan
Besari, sahabat karibnya.
Berkat bantuan Kasan Besari,
Pangeran Lembupeteng
terluka oleh tombak Koro
Welang.

Karena kesaktian tombak
Koro Welang, tak berapa
lama kemudian Pangeran
Lembupeteng gugur dengan
darah membasahi ibu pertiwi
Kadipaten Bonorowo. Walau
begitu, Roro Kembangsore
bisa lolos dari tangan Kalang
dengan cara melarikan diri.
Jejaknya pun tak bisa diendus
oleh Kalang dan antek-
anteknya.
Meski tak bisa menyunting
Roro Kembangsore, Kalang
punya ambisi lain yang tak
kalah besar, yakni ingin
menguasai wilayah Kadipaten
Bonorowo. Ambisinya ini
memang terwujud. Setelah
dibantu Kasan Besari dan
antek-anteknya, Kalang
berhasil menghabisi nyawa
Adipati Bedalem. Dia
kemudian memegang tampuk
pemerintahan sebagai Adipati.

Pusat kegiatan pemerintahan
Bonorowo segera dialihkan ke
Bethak.
Sementara itu, selepas Adipati
Badalem pralaya, jejak Roro
Kembangsore juga berhasil
dilacak. Sang putrid pujuaan
hati Kalang ini kemudian ikut
pula diboyong ke Bethak.
Meskipun sang puteri
berontak atas ajakan i Adipati
Kalang ini, namun dia tak
memiliki kekuatan berarti. Dia
akhirnya harus menyerah.
Setelah berdiam diri Bethak,
sang putri tetap berupaya
untuk tidak bersedia dijadikan
permaisuri oleh Adipati
Kalang yang sesungguhnya
masih pamannya sendiri.
Lewat berbagai cara, Roro
Kembangsore akhirnya
berhasil melarikan diri dari
Kadipaten Bethak. Dia
kemudian mengembara.
Disebutkan bahwa dia memilih
untuk tidak menikah seumur
hidupnya.

Dikisahkan pula, setelah
mengetahui bahwa
Kembagsore tak berada di
taman keputren, sang Adipati
menjadi berang. Dengan muka
merah, semua prajurit
dikumpulkan dan diperintah
untuk melakukan pencarian.
Karena keberangannya, sang
adipati bahkan memberikan
wewenang untuk
mengumumkan sayembara
kepada khalayak ramai yang
berbunyi antara lain: “Barang
siapa dapat menemukan dan
menangkap Roro
Kembangsore, supaya
diserahkan kepada Adipati
Kalang. Masyarakat yang
berhasil melakasanakan, akan
diberi hadiah istimewa,
diangkat sebagai Demang di
daerah Bandil.”
Gaung sayembara dari Adipati
Kalang terdengar pula oleh
para begal. Para begal
menanggapi dengan sungguh-
sungguh dan penuh suka cita.
Di antara sesama begal saling
berunding soal sayembara itu.

Padahal selama ini mereka
belum pernah melihat wajah
Roro Kembangsore.
Para begal lalu menemukan
akal akan mencegat setiap
wanita berparas cantik yang
kebetulan lewat, untuk
dikorek jati dirinya. Waktu
terus berlalu. Suatu ketika,
dua orang begal berpapasan
dengan seorang wanita
berparas cantik dan
berpenampilan lemah lembut.

Keduanya langsung
menghentikan langkah wanita
yang disangka sebagai Roro
Kembangsore itu. Nyatanya
memang benar, wanita
berparas cantik tersebut
mengaku bernama Roro
Kembangsore, puteri
mendiang Adipati Bedalem
dari permaisurinya yang
bernama Roro Mursodo.
Mendengar pengakuan ini,
kedua begal itu tertawa
ngakak menunjukkan
kegembiraan. Roro
Kembangsore segera mereka
ringkus dan mereka boyong
untuk diserahkan pada Adipati
Kalang. Roro Kembangsore
tak menolak ajakan kedua
begal ini. Namun dengan
syarat tertentu, yakni kedua
begal harus adu kesaktian.
Siapa yang menang, dialah
yang berhak menyerahkannya
ke hadapan Adipati Kalang.

Kedua begal tak keberatan
memenuhi syarat yang
diajukan Roro Kembangsore.
Keduanya kemudian saling
adu kesaktian untuk tampil
sebagai pemenang.
Selagi lomba adu kesaktian itu
berlangsung sengit, secara
diam-diam Roro Kembangsore
yang cerdik itu melarikan diri.
Kedua begal akhirnya kaget
demi melihat Roro
Kembangsore yang telah
menghilang. Mereka segera
menyadari kebodohannya, dan
kemudian bersepakat untuk
melakukan pengejaran.
Setelah gagal dalam
pencarian, keduanya baru
sadar bahwa mereka telah
menjadi korban tipu muslihat
Roro Kembangsore.
Meski dijanjikan sebagai
permaisuri, Roro
Kembangsore tetap menolak
menikah dengan Adipati
Kalang. Baginya, daripada
harus menikah dengan Adipati
Kalang, lebih baik tidak
menikah selamanya.

Disebutkan, setelah Adipati
Kalang mati disobek-sobek
tubuhnya oleh Patih Gajah
Mada, sampai hayatnya
Kembangsore belum pernah
menikah, meski sebetulnya
banyak yang mau
memperisterinya. Tapi,
semua pinangan ditolak
dengan halus oleh Roro
Kembangsore. Salah satu
pinangan tersebut berasal dari
Joko Budheg. Pada waktu Joko
Budheg melamar malah
disuruh Roro Kembangsore
berangkat bertapa di Gunung
Budheg, sampai akhirnya dia
dikenal dengan sebutan Joko
Budheg….
***

Demikian sekilas kisah
tentang Roro Kembangsore.
Menurut keterangan Basuki,
juru kunci makam Roro
Kembangsore, konon karena
kisah cintanya tak tersampai
antara Roro Kembangsore dan
Pangeran Lembupeteng,
Adipati Kalang dan Roro
Kembangsore, juga Joko
Budheg dan Roro
Kembangsore, sampai
sekarang makam Roro
Kembangsore masih tetap
dikeramatkan.

Bila malam tiba, apalagi
malam Mingguan, lokasi di
sekitar makam ini ramai
didatangi para peziarah.
Uniknya, di antara para
peziarah itu banyak pula
perempuan penjaja seks.
Mereka berkeliaran mencari
mangsa laki-laki hidung
belang di sekitar kuburan Cina
(bong) yang ada di dekat
makam Roro Kembangsore.
Dengan banyaknya para
pekerja seks komersial (PSK),
maka Gunung Bolo maka
terjadi perpaduan antara
wisata seks dan wisata
spiritual. Karena itu, bagi
peziarah yang murni ingin
melakukan ritual, maka
mereka cenderung datang ke
makam Roro Kembangsore
pada waktu pagi atau siang
hari.

Ketika Misteri datang ke
lokasi makam ini sambil
menunggu datangnya juru
kunci, Misteri sempat ngobrol
agak lama dengan Ayu
Yolanda, penyanyi dangdut
lokal Tulungagung. Ayu
mengaku datang ke makam
Roro Kembangsore untuk
yang kedua kalinya.
Tujuannya, di samping supaya
mendapat job banyak, dia juga
ingin jadi penyanyi dangdut
kondang seperti Inul
Daratista..

Memang, uborampe yang
dibawa Ayu tidak sama
dengan uborampe orang yang
akan mencari pesugihan di
makam Roro Kembangsore,
yaitu kembang boreh, minyak
wangi, dan kemenyan.
Bedanya hanya orang yang
mencari pesugihan harus
membawa uborampe sekul
anget (nasi gurih panggang
ayam), dan sekul wangi
(bunga telon, minyak wangi,
kemenyan). Selain
umborampe tersebut,
sepulang dari melaksanakan
ritual tidak boleh berhenti di
kawasan Gunung Bolo.
Biasanya, kalau sudah berhasil
apa yang diinginkan, hari
Jum’at Pon si pelaku pesugihan
terus menyembelih kambing di
makam Roro Kembagsore.
Setelah itu, semua uborampe
dikendurikan di makam Roro
Kembangsore tersebut.

Yang terasa nyeleneh, konon
bila permintaannya ingin lekas
tercapai, maka si pelaku
pesugihan harus melakukan
hubungan seks haram dengan
lawan jenis. Namun, hal ini
dibantah oleh juru kunci yang
mengatakan, “Sebetulnya
tidak ada keharusan si pelaku
pesugihan melakukan
hubungan badaniah.”

Dikatakan oleh Basuki, yang
pantang adalah ziarah bagi
suami isteri. Konon, kalau
suami isteri sama-sama ziarah
ke makam Roro
Kembangsore, maka
kemungkinan besar kelak di
kemudian hari mereka akan
terlibat perselingkuhan. Kalau
tidak suaminya, isterinya yang
akan selingkuh. Begitu pula
sebaliknya.
“ Makanya, supaya tidak
selingkuh kalau mencari
pesugihan ke makam Roro
Kembangsore sebaiknya tidak
usah mengajak suami atau
isteri. Roro Kembangsore
mungkin tak suka dengan
suami isteri, sebab dia seumur
hidupnya tidak pernah
menikah,” tandas Basuki.
Saat Misteri melakukan
kontemplasi di areal makam
Roro Kembangsore, Misteri
melihat aura sekitarnya yang
merah membara. Ini
menandakan adanya kekuatan
yang kurang baik di tempat
itu. Mungkin hal ini
berhubungan erat dengan
praktek ritual sesat yang ada
di sekitar makam ini.

Disamping itu, Misteri juga
menyaksikan penampakkan
sosok perempuan berambut
panjang riap-riapan, dengan
buah dada menggelayut
sebesar papaya Bangkok.
Apakah dia sosok wewe
gombel, atau mungkin pula
penjelmaan gaib dari Roro
Kembangsore?
Apapun sosok itu, yang pasti,
siapapun harus berpikir seribu
kali bila ingin mencoba-coba
jalan sesat di tempat ini.
Ingan, banyak jalan menuju
roma. Begitu kata pepatah.
Jadi, berjuang dan jangan
mudah menyerah dalam
menggapai kehidupan yang
lebih baik. Jangan lupa,
berdoa selalu pada Tuhan
Yang Maha Esa.

Pesugihan monyet makam ngujang tulungagung

Pesugihan monyet makam ngujang tulungagung

Setiap kali akan masuk atau
meninggalkan kota
Tulungagung dari/ke arah
Kediri, kita akan melewati
jembatan sungai brantas (saya lupa nama,
kalo gak salah 'Ngujang'),


tepat bersebalahan dengan
jembatan tersebut (kalo dari
arah Tulungagung sebelum
jembatan, tapi kalo dari arah
Kediri setelah jembatan), ada
2 makam yang namanya
Ngujang sedangkan posisinya
berhadapan antara makan
yang satu dengan makam
yang satunya lagi dan persis di
sebelah makam tersebut ada
sungai yang membelah kota
Tulungagung dengan kediri.

Makam yang timur adalah
makam Pecinan sedangkan
makam yang sebelah barat
ada makam Jawa.
Makam ini dihuni dan hidup
puluhan monyet, saya sendiri
tidak tahu persis dari mana
asal muasal keberadaan
monyet itu.

Berdasarkan
keterangan dari seorang
temen yang lahir di
Tulungagung, monyet itu
sudah ada sejak jaman dahulu
dan tempat ini sering dipakai
orang untuk mencari
pesugihan (benar tidaknya
silakan buktikan sendiri).

Monyet-monyet yang ada
sekitar kuburan dan jembatan
tersebut terlihat ramah,
mereka (monyet) sering kali
berkeliaran di sekitar lokasi
tersebut, yang menarik dari
monyet-monyet itu yaitu dapat
berkembang biak atau dengan
kata lain dapat mempunyai
anak dilokasi yang yang ramai
dan padat lalu lintas. monyet-monyet
itu merasa tidak terganggu
dengan keberadaan manusia
dan lalu lalang kendaraan,
begitu pula sebaliknya.
penduduk Tulungagung
merasa tidak terganggu
dengan keberadaan monyet-monyet
tersebut, karena memang monyet-monyet
itu tidak mengganggu penduduk
sekitar.

Berdasarkan sumber yang
sama, setiap hari minggu
lokasi itu sering kali ramai
oleh penduduk Tulungagung
yang berkunjung ke lokasi
itu sering kali memberi makan
monyet-monyet tersebut. mungkin
karena hal itu monyet-monyet yang
berjumlah puluhan itu tidak
mau pergi dari lokasi Makam
Ngujang.

Begitu banyak cerita mistis
yang sebenarnya ada di
makam tersebut, sayang
sekali saya sendiri tidak
sempat ngobrol dengan orang
yang benar-benar tahu tentang
sejarah kota Tulungagung,
ya... karena saya ke
Tulungagung hanya lewat saja
kemudian pergi.
selalu ada kisah yang menarik
dalam setiap perjalanan
"kisah perjalanan pulang dari
pernikahan seorang teman"

Indahnya wisata pantai brumbun tulungagung

Indahnya wisata pantai brumbun tulungagung





Pantai kecil ini
sejatinya merupakan teluk
yang masih sangat alami.

Berbeda dengan Pantai Popoh
yang oleh Pemda Kabupaten
telah resmi diekspos sebagai
tempat kunjungan wisata,
Pantai Brumbun seperti anak
tiri yang tidak diperhatikan.

Tetapi justru karena itulah,
pantai ini masih sangat alami
dan begitu cantik.
Terletak sekitar 35 km dari
pusat kota, Pantai Brumbun
bisa ditempuh melalui jalur
yang sama dengan Pantai
Indah Popoh.

Anda bisa
mengambil jalur Tulungagung
– Boyolangu – Campurdarat –
Ngentrong. Pertigaan SMAN
01 Campurdarat (SMA
Ngentrong) belok ke kiri
menuju kecamatan
Pucanglaban. Sebelum sampai
ibukota Pucanglaban, ada
jalan kecil ke kanan beraspal
jelek yang menuju pantai
Brumbun. Jalan ini berbukit-
bukit, jadi perhatikan
kendaraan Anda harus benar-
benar fit.

Di perjalanan Anda
akan melihat bukit-bukit yang
dulu adalah hutan kecil yang
rimbun yang sekarang telah
gundul dan berubah menjadi
ladang jagung. :(
Berikut adalah foto-fotonya.
Saya akan ekspos banyak foto
di sini. Jadi bagi yang sedang
fakir bandwidth, disarankan
tidak membukanya. :)

wisata waduk/bendungan wonorejo tulungagung

wisata waduk/bendungan  wonorejo tulungagung





Dhias benar. Waduk sudah tidak
gersang lagi. Sudah cukup
rimbun, meskipun belum
terlalu rungkut untuk muda-
mudi bermojok-mojok ria. Tapi
herannya, saya melihat sudah
banyak juga yang mojok
berdua di sana.

DPR, Di Bawah
Pohon Rindang. Motor baru
kreditan punya Bapak yang
menjual dua sapinya. Di
atasnya, sang cowok dengan
gagahnya duduk memeluk
sang kekasih yang
menggelayut manja di
dadanya. Berdua menikmati
hembusan angin lembah yang
dingin. Mereka tidak
mempedulikan ada cowok
kesepian bertubuh tambun
yang asyik dengan kamera
hilir mudik di sekitar mereka.

Berikut adalah foto-foto
tentang waduk Wonorejo yang
saya tangkap di kamera saya.
Pada waktu pulang
mendatang, obsesi saya
adalah mendatangi Pantai
Brumbun. Semoga waktu itu Nadhias
sedang tidak sibuk, sehingga
bisa mengantarkan saya ke
sana. Bosan juga kalau
hunting sendirian. :)

Thursday, 9 September 2010

Overviews Surfing Di Bali Indonesia

Overviews Surfing Di Bali Indonesia
www.surfingbali.com Surfing Bali and Indonesia
Bali is part of the Indonesian archipelago of 18,700 islands and lies approximately 8°C south of the equator. The majority of the population of Bali are (Balinese) Hindu, a unique mixture of Hinduism & Buddhism. The unique religion and culture of the Balinese people is one of the reasons the island remained an oasis of peace and calm throughout the chaotic times in Indonesia since the fall of the Suharto dictatorship in 1999 and has helped sustain the spirit of the island during the last few years as Bali and the Balinese people have suffered their own turbulent times of unbelievable sorrow and the resulting economic hardships.

Quick Overview of Bali
Country: Indonesia
Area: 5620 sq km (2192 sq miles)
Population: 3 million
Capital: Denpasar (pop 370,000)
People: Balinese with a minority Javanese population
Language: Bahasa Indonesian (official language of Indonesia), Bahasa Balinese, limited English spoken in tourist areas
Religion: Balinese Hindu, Muslim and Christian minority
Time Difference: Indonesia covers three time zones. Bali is eight hours ahead of GMT.

Bali is blessed by nature with a short, hot wet season and a longer, cooler, dry season and tourists flock here all year round. Many tourists choose to arrive in the dry season - which nowadays appears to cover a longer period from April to late November. The busiest period is during the holiday season of August, which is also the coolest month on this Island of the Gods.




Contrary to popular belief, Bali's waves were being surfed by both visiting and local surfers as early as the late 1930s and not, as popular surfing legend has it, that the island of Bali was first discovered as a great surfing destination by a group of Australian surfers. Although, when these first Australian surfers began arriving on the island of Bali in 1967 they introduced the island to the first serious surfing equipment.

While Bali may no longer be a "frontier" surf destination, it still lies at the heart of the Indonesian surfing experience and is a mandatory stopover for anyone on their first surfing trip to Indonesia. Bali is also the first and last stop for most of the surfers traveling on to some of the legendary breaks in G-Land, Lombok or Sumbawa, or the more distant areas of East Nusa Tenggara, Mentawais and North Sumatra.

Bali has traditionally been the starting point for nearly all Indonesian surfing tours. Bali boasts over 20 top quality breaks on the southwest and southeast coasts of the island and around the Bukit (Uluwatu) Peninsula. Some of these, like Padang Padang & Uluwatu, are world class barreling reef-breaks. Others range from fun waves on the beach-breaks around Kuta and Sanur to serious heavy, sucking waves.

Having so many surf options available within such a short distance to the Kuta and Legian beach area means that after your surf you can return to a plush hotel and enjoy a long, lazy meal, lounge by the pool, take a nap in an air conditioned room and watch satellite TV. Alternatively you can party at the discos each night, enjoy some of the local brew, all of which has definite appeal after spending one or two weeks on a surf charter boat, or in a very basic surf camp on Java or Sumatra. The peak of the surf season for Bali is April - October when solid swells are produced by the roaring 40's and can be surfed on the reefs around Kuta, Uluwatu, and Nusa Dua. Unlike most other areas of Indonesia where it is all heavy reef breaks, Bali also has a lot of beach-breaks on offer which are less likely to cause a surfer of novice or intermediate ability to get injured as can happen on the larger waves on the reef-breaks.

The surf in Bali is generally not huge, but most often in the 2-6 foot range (shoulder-high to double overhead). Larger waves can occur on some of the exposed reefs, but a mellower surf break can always be found in Bali by anyone who wishes to avoid life-threatening conditions. Bali has surf breaks both the west-facing and east-facing coastlines and, because of this an offshore wind can be found somewhere on the island on any given day. Because of the number of surf breaks and the quality and consistency of the waves in Bali, it is still possible to find a many places to surf with only a small to moderate crowd.

The surf is always up on the Island of the God's! and regardless of what country you hail from you will feel the mystique of surfing Bali's beaches ...with so many exotic locations available on the island you can choose from white sands, black sands, amazing scenery, traditional fisherman and fishing villages which all add to the unique experience that comes with Surfing Bali.